Tekanan Akademik dan Jalan Pintas yang Menggoda
Di era kompetisi global, mahasiswa berada dalam pusaran tuntutan akademik yang semakin berat. Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, target lulus cepat, hingga ekspektasi orang tua kerap membuat mahasiswa mencari cara instan untuk meningkatkan performa. Salah satu jalan pintas yang saat ini mulai dikenal di dunia internasional adalah smart drugs atau nootropics-zat yang diyakini dapat menambah daya fokus, konsentrasi, serta daya ingat.
Fenomena ini memunculkan dilema, apakah mengejar prestasi akademik dengan bantuan zat kimia sepadan dengan risiko kesehatan jangka panjang?
Apa Itu Smart Drugs?
Secara sederhana, smart drugs terbagi menjadi dua kategori :
1. Suplemen Alami yang Dijual Bebas
Suplemen alami atau herbal termasuk dalam kategori nootropics ringan. Beberapa contoh yang sering digunakan:
a. Ginkgo biloba yang dipercaya melancarkan aliran darah ke otak, meningkatkan memori jangka pendek, serta mengurangi gejala penurunan kognitif pada lansia.
b. Bacopa monnieri (brahmi) yang digunakan dalam pengobatan tradisional India, diklaim mampu memperbaiki daya ingat dan fokus.
c. Omega-3 (DHA & EPA) merupakan asam lemak esensial yang berperan dalam kesehatan saraf, sering diasosiasikan dengan peningkatan fungsi otak.
2. Obat Resep: Ritalin, Adderall, Modafinil
Berbeda dengan suplemen, obat resep termasuk kategori stimulant kuat yang memang memengaruhi sistem saraf pusat.
a. Ritalin (Methylpheinidate)
Digunakan untuk terapi ADHD, cara kerjanya adalah meningkatkan kadar dopamine dan norepinefrin di otak, sehingga penderitanya lebih mudah fokus.
b. Adderall (Amphetamine salts)
Kombinasi beberapa jenis amfetamin, efeknya lebih kuat daripada Ritalin dalam meningkatkan kewaspadaan, motivasi, dan fokus.
c. Modafinil
Awalnya untuk terapi narcolepsy (gangguan tidur ekstrem). Obat ini meningkatkan rasa terjaga, membuat penggunanya tetap fokus dan tidak mudah mengantuk.
Dibanyak negara maju, obat resep ini disalahgunakan mahasiswa sehat sebagai “doping otak”. Dampaknya, muncul ketergantungan dan pengalahgunaan, serupa dengan narkoba.
Potensi Ancaman Jika Fenomena Ini Masuk Indonesia
Fenomena adiksi sebenarnya bukan hal baru di kalangan mahasiswa Indonesia. Salah satu bentuk yang paling menonjol adalah adiksi smartphone. Penelitian di Universitas Halu Oleo menunjukkan bahwa meskipun gejalanya tergolong ringan, mahasiswa yang kecanduan smartphone mengalami peningkatan stres, kecemasan, hingga kesulitan dalam berkonsentrasi saat belajar (Mahmud et al., 2023). Ketergantungan ini menunjukkan bagaimana sebuah kebiasaan yang awalnya tampak “normal” bisa berubah menjadi perilaku adiktif yang merugikan kesehatan mental dan akademik. Jika smartphone saja dapat menimbulkan dampak demikian, bayangkan risiko yang mungkin muncul bila mahasiswa mulai bergantung pada smart drugs.
Dampak negatif adiksi terhadap aspek akademik dan psikologis semakin diperkuat oleh penelitian di Salatiga. Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan smartphone secara berlebihan berhubungan dengan menurunnya prestasi akademik mahasiswa. Lebih dari itu, adiksi juga memperburuk kondisi psikologis dengan meningkatkan gejala depresi, isolasi sosial, serta rasa tidak percaya diri (Ningsih, 2019). Fenomena ini memberi gambaran jelas bahwa adiksi—apa pun bentuknya—selalu berpotensi menghambat pencapaian akademik yang justru menjadi tujuan utama mahasiswa. Dalam konteks smart drugs, dampaknya bisa lebih serius karena melibatkan zat kimia yang secara langsung memengaruhi kerja otak.
Di sisi lain, fenomena penyalahgunaan obat-obatan dan narkoba sudah menjadi perhatian serius di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat bahwa bujuk rayu para pengedar kerap dikemas dengan narasi positif: “obat penambah semangat” atau “pembantu belajar” (BNN, 2024). Pola ini sangat mirip dengan daya tarik smart drugs di negara lain yang dipromosikan sebagai solusi instan untuk meraih fokus dan prestasi. Kesamaannya terletak pada janji manis peningkatan performa, yang pada kenyataannya justru menyembunyikan risiko adiksi, kerusakan otak, bahkan masa depan yang terancam.
Dengan melihat ketiga fenomena ini adiksi smartphone, penurunan prestasi akademik, dan penyalahgunaan obat-obatan—kita bisa menyadari bahwa mahasiswa berada pada posisi rentan terhadap godaan “jalan pintas”. Smart drugsmungkin belum marak di Indonesia, tetapi kondisi sosial dan psikologis yang ada saat ini menjadi lahan subur bagi potensi penyalahgunaannya di masa mendatang.
Dampak Multidimensi: Tidak Sekadar Kesehatan
Penggunaan smart drugs bukan hanya persoalan medis, tetapi menyentuh aspek sosial, psikologis, hingga akademik. Dari sisi kesehatan fisik dan otak, zat stimulan seperti Ritalin bekerja dengan meningkatkan dopamin. Jika digunakan terus-menerus, hal ini dapat merusak sistem saraf dan menurunkan fleksibilitas berpikir, yang justru penting bagi mahasiswa.
Dampak pada kesehatan mental juga tidak kalah serius. Gejala seperti kecemasan, paranoia, hingga depresi kerap muncul, mirip dengan hasil penelitian di Indonesia terkait adiksi smartphone yang mengganggu kondisi psikologis mahasiswa. Sementara dari sisi akademik dan sosial, ketergantungan pada smart drugs bisa menciptakan siklus berbahaya: prestasi mungkin meningkat sementara, tetapi kemampuan belajar mandiri berkurang, bahkan relasi sosial terganggu akibat perubahan emosi dan perilaku. Di luar itu, terdapat dilema etika dan moralitas: apakah adil jika prestasi akademik diraih lewat “doping otak” sementara mahasiswa lain berjuang dengan usaha nyata?
Membangun Ketahanan Mahasiswa: Alternatif Sehat
Alih-alih menempuh jalan pintas yang berisiko, mahasiswa dapat membangun strategi belajar yang lebih berkelanjutan. Manajemen waktu yang baik membantu menyeimbangkan kuliah, organisasi, dan istirahat. Teknik belajar efektif seperti pomodoro, mind mapping, atau diskusi kelompok mampu meningkatkan pemahaman tanpa tekanan berlebih. Perawatan diri melalui olahraga teratur, pola makan bergizi, dan tidur cukup terbukti mendukung fungsi otak secara alami. Selain itu, dukungan psikososial dari konseling kampus atau kelompok sebaya dapat menjadi penopang dalam menghadapi stres akademik.
Di sisi lain, institusi kampus berperan strategis dengan menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, memperbanyak seminar literasi kesehatan mental, serta membuka ruang diskusi tentang bahaya penyalahgunaan zat. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya terlindungi dari risiko smart drugs, tetapi juga dibekali kemampuan untuk tumbuh sehat secara akademik maupun psikologis.
Penutup: Prestasi Tidak Seharusnya Mengorbankan Masa Depan
Fenomena smart drugs menjadi peringatan dini bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Walaupun kasusnya belum banyak terlihat, akses yang semakin mudah melalui internet membuat tren ini berpotensi masuk ke kalangan mahasiswa. Jika tidak diantisipasi, smart drugs bisa menambah daftar masalah adiksi yang sudah ada, seperti kecanduan gawai dan narkoba.
Prestasi akademik memang penting, namun nilainya tidak sebanding dengan risiko kehilangan kesehatan, masa depan, bahkan jati diri. Jalan pintas dengan obat perangsang hanya memberi hasil semu yang berbahaya. Mahasiswa perlu menanamkan kesadaran bahwa kesuksesan sejati dibangun dengan konsistensi, usaha yang jujur, dan strategi sehat—bukan dari pil instan yang pada akhirnya bisa merusak hidup mereka.
Sumber :
Mahmud, H., dkk. (2023). Analisis Kecanduan Smartphone pada Mahasiswa Universitas Halu Oleo. Makassar Journal of Public Health, 3(2), 99–107.
Ningsih, T. (2019). Dampak Negatif Adiksi Penggunaan Smartphone terhadap Aspek-Aspek Akademik dan Personal Remaja. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/332744176_DAMPAK_NEGATIF_ADIKSI_PENGGUNAAN_SMARTPHONE_TERHADAP_ASPEK-ASPEK_AKADEMIK_PERSONAL_REMAJA
Badan Narkotika Nasional (BNN). (2024). Hindari Narkotika, Cerdaskan Generasi Muda Bangsa. https://bnn.go.id/hindari-narkotika-cerdaskan-generasi-muda-bangsa
0 komentar :
Posting Komentar